Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Waspada DBD! Dinkes Natuna Imbau Masyarakat Cegah Perkembangbiakan Nyamuk

WhatsApp Image 2025 02 06 at 22.55.56
Kadiskes Natuna Hikmat Aliansyah. (Foto: hariandaerah.com/Marzani)

NATUNA – Memasuki musim penghujan, nyamuk semakin mudah berkembang biak. Oleh karena itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah, mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap penyebaran nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Akhir Desember kemarin, kasus DBD di Natuna mencapai 81 kasus,” ujar Hikmat melalui sambungan telepon, Kamis (6/2/2025).

Menurut Hikmat, DBD adalah penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dengue akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang berkembang biak di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.

“Gejala DBD biasanya muncul 4-10 hari setelah terinfeksi, di antaranya demam tinggi hingga 40 derajat Celsius, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri di bagian belakang mata, serta munculnya bintik merah pada kulit,” jelas Hikmat.

BACA JUGA:  Dinkes Aceh: Ayo Terapkan “Isi Piringku” Sebagai Pengganti Pola Makan 4 Sehat 5 Sempurna

Sementara itu, Kepala Puskesmas Bunguran Timur, Nazri, menjelaskan bahwa pencegahan DBD dapat dilakukan dengan menerapkan 3M Plus, yaitu Menguras, Menutup dan Mendaur ulang.

Nazri menjelaska,  membersihkan dan menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, toren air, dan bak penampung air lainnya yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

“Gosok dan bersihkan dinding bak hingga benar-benar bersih, terutama saat musim hujan dan pancaroba, karena telur nyamuk dapat bertahan di tempat kering hingga enam bulan,” jelasnya.

BACA JUGA:  BPJS Kesehatan Beri Pemahaman dan Informasi Terbaru Program JKN KIS Bersama Kompas

Kemudian kata Nazri, menutup rapat-rapat semua tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk.

Selanjutnya mendaur ulang  yakni memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang bernilai ekonomis untuk mengurangi limbah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Untuk Februari 2025 ini, sudah ada enam kasus yang tercatat,” pungkas Nazri.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *