Aceh Barat Daya – Di tengah deru aktivitas pelayanan publik setiap pagi, suara lantunan bacaan kitab beraksara Jawi menggema dari sebuah ruangan sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) Susoh, Aceh Barat Daya.
Pegawai yang biasanya sibuk mengurus berkas pernikahan, akta cerai, atau pelayanan keagamaan lainnya, pagi itu duduk bersila sambil memegang kitab kuning yang usianya jauh lebih tua dari mereka.
Mata mereka bergantian menatap teks berhuruf Arab Melayu, warisan ulama abad lampau.
Di antara lembaran yang mulai menguning itu, tersimpan panduan ibadah dan pesan moral yang menjadi penuntun generasi demi generasi.
Suasana khidmat ini seolah menjadi jeda di tengah rutinitas kantor, mengingatkan bahwa pelayanan publik bukan hanya urusan administrasi, tetapi juga soal hati dan akhlak.
Aktifitas tersebut sejalan dengan komitmen Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Aceh Barat Daya yang menegaskan dalam membangun aparatur sipil negara (ASN) yang tidak hanya profesional dalam tugas, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai spiritual dan budaya keislaman.
Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan penuh terhadap program pengajian rutin Kitab Arab Melayu di KUA Kecamatan Susoh
Kepala Kantor Kemenag Abdya, Salman Al Farisi, mengatakan bahwa kegiatan pengajian yang digagas KUA Susoh merupakan langkah nyata dalam membina karakter dan kapasitas ASN di lingkungan Kemenag.
Menurutnya, pembinaan ASN tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan teknis, tetapi juga perlu dibarengi penguatan nilai moral, etika, dan spiritual.
“Kita sangat mengapresiasi inisiatif KUA Susoh ini. ASN Kemenag harus menjadi teladan, punya integritas, punya ilmu, dan dekat dengan nilai-nilai agama. Melalui pengajian seperti ini, kita berharap para pegawai semakin mantap secara keilmuan dan akhlak,” ujar Salman, Sabtu (9/8/2025) di Blangpidie.
Pengajian Kitab Arab Melayu yang berlangsung di KUA Susoh dipimpin langsung oleh Kepala KUA, Roni Haldi. Kegiatan dilaksanakan setiap Jumat pagi, pukul 08.00–09.00 WIB, diikuti seluruh staf dan pegawai KUA.
Uniknya, pengajian tetap berjalan meski pada hari yang sama terdapat pelayanan akad nikah atau administrasi pernikahan.
“Alhamdulillah, pengajian Kitab Perukunan ini rutin kita laksanakan. Sampai saat ini, pembahasan sudah sampai halaman 48, yang membahas tentang tata cara shalat,” kata Roni.
Menurutnya, pembacaan kitab dilakukan secara bergiliran oleh peserta. Metode ini tidak hanya membuat suasana belajar menjadi lebih hidup, tetapi juga melatih kelancaran membaca aksara Jawi yang mulai jarang digunakan generasi muda.
Kitab Perukunan Melayu adalah kitab fikih klasik yang menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Arab Melayu (Jawi). Kitab ini membahas tata cara ibadah yang meliputi bersuci, shalat, puasa, haji, hingga doa-doa harian.
Sejak ratusan tahun lalu, kitab ini menjadi pegangan penting di kalangan masyarakat Melayu, termasuk di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan, hingga Brunei dan Malaysia.
Dalam tradisi keilmuan Islam di Nusantara, Perukunan memiliki posisi istimewa. Kitab ini berfungsi sebagai panduan praktis bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah sesuai tuntunan mazhab Syafi’i, yang menjadi mazhab mayoritas di kawasan ini.
Bahkan, banyak pesantren dan dayah di Aceh menjadikannya bagian dari kurikulum pembelajaran klasik (turats).
Salman menegaskan bahwa pelestarian pengajian kitab seperti ini bukan hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal.
“Pengajian kitab beraksara Arab Melayu adalah warisan ulama terdahulu yang harus kita rawat. Apalagi di era digital ini, ketika teks-teks klasik mulai tergeser oleh informasi instan, kita justru harus memperkuat literasi keagamaan yang bersumber dari kitab-kitab otoritatif,” ujarnya.
Bagi KUA Susoh, pengajian ini tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial. Roni Haldi menekankan bahwa pembinaan ASN harus menyentuh dua aspek sekaligus: kompetensi teknis dan kedalaman spiritual.
“Pelayanan publik yang baik bukan hanya soal administrasi yang cepat dan tepat, tetapi juga sikap yang santun, empati kepada masyarakat, dan keikhlasan dalam bekerja. Semua itu bersumber dari pemahaman agama yang benar,” kata Roni.
Ia berharap, pengajian ini akan terus menjadi program tetap KUA Susoh dan bisa menjadi inspirasi bagi KUA lain di Aceh Barat Daya.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan positif dari tokoh agama setempat. Tgk. Abdullah, salah satu ulama di Kecamatan Susoh, menilai pengajian rutin di kantor pemerintah merupakan langkah strategis untuk memperkuat akhlak aparatur.
“Kalau aparatur punya ilmu agama yang memadai, insya Allah pelayanan kepada masyarakat akan lebih amanah. Kami mendukung penuh kegiatan ini dan berharap bisa terus berjalan,” ujarnya.
Selain itu, beberapa warga juga merasa bangga karena KUA tidak hanya menjadi tempat pelayanan pernikahan dan administrasi, tetapi juga menjadi pusat pembinaan keagamaan.
Salman mengakui bahwa di tengah arus modernisasi dan tantangan global, instansi pemerintah harus adaptif terhadap teknologi dan tuntutan pelayanan yang semakin cepat.
Namun, ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengikis nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi fondasi bangsa.
“ASN Kemenag adalah garda terdepan dalam membimbing masyarakat, terutama dalam urusan agama. Kalau fondasi spiritualnya kuat, mereka akan mampu menghadapi tantangan modernisasi dengan tetap memegang nilai-nilai luhur,” kata Salman.
Kemenag Abdya berencana mendorong agar pengajian serupa dapat diadakan di seluruh KUA di wilayahnya. Langkah ini diharapkan menjadi gerakan bersama untuk memperkuat pembinaan ASN yang religius, kompeten, dan siap bersaing dalam pelayanan umat.
Roni Haldi menyebut, pihaknya akan terus memelihara semangat pengajian ini dengan mengajak semua pegawai untuk aktif berpartisipasi.
Selain itu, ke depan ia berencana mengundang narasumber dari luar, termasuk ulama dan akademisi, agar materi yang disampaikan semakin kaya dan bervariasi.
“Dengan adanya pengajian ini, kami berharap seluruh staf KUA Susoh bisa menjadi teladan di masyarakat, baik dalam kompetensi kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Pengajian Kitab Arab Melayu di KUA Susoh kini bukan hanya menjadi agenda rutin internal, tetapi juga simbol komitmen Kemenag Abdya untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pelayanan publik yang profesional.
Di tengah gempuran arus informasi dan perubahan sosial, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan tradisi, melainkan dapat berjalan seiring untuk membentuk generasi aparatur yang tangguh dan berkarakter.














