Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Pascapembinaan DLH, Keluhan Asap Dapur MBG Masih Muncul, SPPG Ambarawa Barat Janji Tambah Cerobong

IMG 20260618 WA0082
Tangkapan layar video mediasi yang diunggah akun TikTok SPPG Ambarawa Barat memperlihatkan seorang warga menyampaikan keluhan terkait bau dan asap yang diduga berasal dari aktivitas dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mediasi tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan warga dan difasilitasi oleh Pemerintah Pekon Ambarawa Barat bersama pihak pengelola SPPG. (Dok. TikTok SPPG Ambarawa Barat)

PRINGSEWU, HARIANDAERAH.COM– Upaya perbaikan yang dilakukan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ambarawa Barat, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, terkait keluhan asap dan aroma dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum sepenuhnya membuahkan hasil.

Hal itu terungkap dalam video berdurasi 6 menit 59 detik yang beredar melalui akun TikTok SPPG Ambarawa Barat. Video tersebut memperlihatkan proses mediasi antara pihak pengelola SPPG, Kepala Pekon Ambarawa Barat Suranto, dan seorang warga yang sebelumnya mengeluhkan asap dari aktivitas dapur MBG.

Mediasi dilakukan di rumah warga yang terdampak dan difasilitasi langsung oleh pemerintah pekon setempat sebagai upaya mencari solusi atas keluhan yang telah disampaikan masyarakat.

Sebelumnya, keluhan warga terkait bau dan asap dari aktivitas dapur MBG telah mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu. Dalam kegiatan pendampingan dan pembinaan yang dilakukan beberapa waktu lalu, DLH menemukan sejumlah catatan terkait pengelolaan limbah di SPPG Ambarawa Barat.

Temuan tersebut antara lain belum tersedianya grease trap pada area pencucian, pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai belum optimal, serta sistem pembuangan asap dapur yang masih mengarah ke kawasan permukiman warga.

Atas temuan itu, DLH meminta pengelola melakukan sejumlah perbaikan, termasuk optimalisasi IPAL, pemasangan grease trap, dan penyesuaian sistem cerobong asap agar tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat sekitar.

Namun berdasarkan video mediasi yang beredar, warga menilai perubahan yang dilakukan hingga saat ini masih belum sepenuhnya mengatasi persoalan yang dikeluhkan.

Dalam video tersebut, Kepala Pekon Ambarawa Barat, Suranto, menjelaskan bahwa pihak SPPG sebenarnya telah melakukan pemasangan dan penyesuaian pada cerobong asap. Akan tetapi, berdasarkan aspirasi yang disampaikan warga, perbaikan tersebut dinilai masih belum sesuai harapan.

“Terkait pemasangan itu kira-kira sudah ada perubahan atau belum. Sebenarnya bagi beliau itu belum pas. Mintanya agar lebih tinggi lagi kemudian diberi semacam penutup di bagian atas,” kata Suranto sebagaimana terekam dalam video mediasi yang beredar.

Menurut Suranto, warga berharap cerobong asap dibuat lebih tinggi sehingga asap hasil aktivitas memasak tidak lagi mengarah ke rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar lokasi dapur.

Dalam kesempatan yang sama, pihak pengelola SPPG menyampaikan permohonan maaf kepada warga apabila aktivitas dapur selama ini menimbulkan ketidaknyamanan.

BACA JUGA:  Wabup Pringsewu Tinjau Pos Pengamanan Nataru, Pastikan Pelayanan dan Kesiapan Personel

Pengelola mengakui bahwa langkah yang telah dilakukan kemungkinan masih belum maksimal dan berjanji akan kembali melakukan perbaikan sesuai masukan yang diterima.

“Mengenai yang kurang maksimal akan segera kami tindak lanjuti kembali. Kalau memang kurang panjang nanti akan kami pesankan satu lagi cerobong yang lebih panjang,” ujar perwakilan SPPG dalam video tersebut.

Pihak SPPG juga menjelaskan bahwa penambahan cerobong membutuhkan proses pemesanan dan pengiriman sehingga tidak dapat dilakukan secara langsung.

“Kami mohon bersabar karena pemesanan peralatan seperti itu tidak ujug-ujug langsung ada. Kami juga butuh waktu untuk pengiriman ke sini. Paling tidak sekitar dua sampai tiga hari. Dengan adanya satu cerobong lagi yang akan dibuat, mudah-mudahan bisa mengurangi,” katanya.

Sementara itu, Suranto menekankan pentingnya komunikasi antara masyarakat dan pemerintah pekon dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan warga.

Ia mengimbau masyarakat untuk menyampaikan setiap keluhan melalui jalur yang ada, mulai dari ketua RT, perangkat pekon hingga kepala pekon, agar permasalahan dapat segera diketahui dan dicarikan solusi bersama.

Menurut Suranto, penyampaian informasi melalui aparatur desa penting dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman maupun miskomunikasi yang dapat memperkeruh keadaan.

Video yang beredar juga memperlihatkan pihak pengelola SPPG bersama Kepala Pekon Ambarawa Barat mendatangi langsung rumah warga yang sebelumnya menyampaikan keluhan terkait asap dapur MBG. Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dengan fokus pembahasan pada langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan ke depan.

Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, dapat disimpulkan bahwa rekomendasi yang sebelumnya diberikan DLH Kabupaten Pringsewu masih dalam tahap tindak lanjut dan belum sepenuhnya memberikan hasil sesuai harapan warga. Keluhan terkait asap dapur masih menjadi pembahasan dalam mediasi yang dilakukan, sehingga pengelola SPPG kembali berkomitmen melakukan perbaikan tambahan melalui pemasangan cerobong yang lebih tinggi serta evaluasi lanjutan terhadap sistem pembuangan asap yang ada saat ini.

Perkembangan persoalan di SPPG Ambarawa Barat juga menjadi perhatian berbagai pihak setelah pemberitaan mengenai keluhan warga terkait asap dan aroma dari aktivitas dapur MBG muncul di sejumlah media, termasuk kanal TVRI Lampung dan SCTV. Berdasarkan keterangan seorang narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya, pasca mencuatnya persoalan tersebut, unsur kecamatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, serta pihak-pihak terkait lainnya turut melakukan peninjauan ke lokasi selain pendampingan dan pembinaan yang sebelumnya telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu.

BACA JUGA:  Polemik Menu MBG di SLB Negeri Pringsewu, Rapat Koordinasi Hasilkan Tiga Kesepakatan

Menurut sumber tersebut, peninjauan dilakukan untuk memastikan operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, baik dari aspek kesehatan lingkungan, sanitasi, maupun kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi. Persoalan yang terjadi di SPPG Ambarawa Barat juga disebut menjadi bahan evaluasi dan perhatian bagi SPPG lainnya agar potensi dampak lingkungan dapat diantisipasi sejak awal.

“Ini menjadi pembelajaran bersama sehingga seluruh SPPG dapat lebih memperhatikan pengelolaan lingkungan, sanitasi, dan komunikasi dengan masyarakat sekitar apabila muncul persoalan di lapangan,” ujar sumber tersebut.

Meski sejumlah langkah perbaikan telah dilakukan dan proses mediasi telah berlangsung, berbagai pihak menilai hasil yang diharapkan masyarakat masih memerlukan tindak lanjut yang lebih optimal. Hal itu terlihat dari masih adanya pembahasan mengenai kebutuhan penambahan cerobong asap dalam mediasi yang dilakukan antara warga, pemerintah pekon, dan pihak pengelola SPPG.

Karena itu, sikap kooperatif dan tanggung jawab pengelola dalam menindaklanjuti seluruh rekomendasi yang telah diberikan oleh DLH maupun masukan dari masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam penyelesaian persoalan tersebut. Implementasi perbaikan secara nyata dan berkelanjutan diharapkan tidak hanya menyelesaikan keluhan yang terjadi saat ini, tetapi juga menjadi standar pengelolaan yang baik bagi operasional SPPG ke depan.

Sementara itu, perkembangan tindak lanjut atas berbagai rekomendasi yang telah diberikan akan terus menjadi perhatian publik. Wartawan akan terus memantau perkembangan di lapangan guna memastikan setiap komitmen perbaikan yang telah disampaikan benar-benar direalisasikan, sehingga operasional SPPG dapat berjalan secara optimal, memenuhi standar kesehatan lingkungan, serta tetap menjaga kenyamanan masyarakat yang berada di sekitar lokasi.

Penulis : Davit Segara

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *