BREBES – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Brebes menyebabkan enam desa di Kecamatan Larangan terendam banjir pada Rabu (12/11/2025).
Enam desa yang terdampak banjir tersebut meliputi Desa Slatri, Sitanggal, Rengaspendawa, Karangbale, Kedungbokor, dan Siandong. Dari seluruh wilayah itu, Desa Siandong menjadi yang paling parah terdampak, dengan sekitar 2.000 rumah warga terendam air setinggi lutut orang dewasa.
Tak hanya rumah warga, sejumlah tempat ibadah seperti mushola juga turut tergenang air. Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa ruas jalan di Desa Siandong masih tergenang air, menyebabkan sejumlah kendaraan mogok saat melintas. Warga pun terlihat saling membantu mendorong kendaraan yang terjebak banjir.
Pelaksana Harian (Plh) Bupati Brebes Wurja, SE, bersama Camat Larangan, Eni, meninjau langsung lokasi banjir di Desa Siandong. Eni membenarkan bahwa keenam desa di wilayahnya terdampak banjir, meski kondisi air kini mulai berangsur surut.
“Alhamdulillah, di keenam desa tersebut air sudah berangsur surut. Namun, Desa Siandong menjadi yang paling parah dengan sekitar dua ribu rumah warga terendam,” ujar Eni.
Sementara itu, Rien (48), warga Desa Siandong, mengaku banjir semacam ini hampir terjadi setiap tahun, terutama ketika curah hujan tinggi melanda wilayah Brebes bagian selatan.
“Airnya datang cepat sekali dari arah selatan. Baru hujan dua jam, langsung masuk ke pekarangan,” katanya.
Menurut Rien, air banjir berasal dari aliran sungai kecil yang berhulu di wilayah Kamal, Pamulihan, hingga Sirampog. Warga menduga kondisi lahan di daerah hulu yang kini banyak dibuka menjadi area pertanian turut memperparah banjir.
“Sekarang gunung di atas sana sudah gundul. Air hujan langsung mengalir ke bawah karena tidak ada pepohonan yang menahan,” tambah Jumadi (55), warga lainnya.
Selain faktor kiriman air dari wilayah atas, warga juga menyoroti kondisi saluran drainase di desa yang sudah dangkal dan jarang dinormalisasi. Banyak saluran tersumbat lumpur dan sampah sehingga air tidak dapat mengalir dengan lancar ke sungai utama.
“Udah lama gak dikeruk. Dulu katanya mau dibenerin, tapi gak jadi-jadi,” keluh Warsini, salah satu warga.
Beberapa titik tanggul sungai kecil di sisi barat desa juga diketahui mengalami kerusakan sejak banjir tahun lalu, namun hingga kini belum mendapat perbaikan.
Warga berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai, perbaikan tanggul, dan perawatan drainase agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.














