Simeulue – Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Simeulue, Asludin, menghadiri diskusi konektivitas penerbangan di Aceh yang dilaksanakan di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Simeulue, Rabu (02/11/2022).
Diskusi itu diharapkan dapat mengembangkan Bandar Udara Lasikin yang lebih maju sehingga berdampak pada ekonomi dan pariwisata di Pulau Simeulue.
Pada kesempatan itu, Asludin mengatakan, sebagai salah satu wilayah kepulauan di Aceh, Simeulue sangat bergantung pada transportasi baik laut maupun udara untuk memperlancar distribusi logistik dan mobilitas masyarakat termasuk pengembangan pariwisata.
“Pengembangan perekonomian, pariwisata, maupun yang lainnya sangat bergantung pada konektivitas transportasi, salah satunya konektivitas penerbangan,” ujar Plt Sekda Simeulue, Asludin, SE, M.Kes.
Asludin berharap, melalui diskusi itu dapat memberikan solusi kepada Simeulue, sehingga dapat memecahkan persoalan yang ada khususnya terkait konektivitas penerbangan.
Sementara, Kepala Bandar Udara Lasikin, Bona Tulus F. Simamora yang turut hadir dalam diskusi tersebut mengatakan, bahwa secara kewenangan memang bandar udara penerbangan di Simeulue menjadi kewenangan Pemerintah Daerah, namun pengelolaan bandar udara ini akan dikelola bersama dengan daerah lain.
“Kita akan mencari setiap solusi untuk pengelolaan bandar udara lasikin ke depannya, karena pengelolaan ini harus diintervensi oleh daerah itu sendiri. Daerah lebih tau kebutuhan apa yang diperlukan untuk peningkatan pelayanan masyarakatnya,” jelas Bona Tulus F. Simamora.
Lanjut dia, saat ini seluruh penerbangan di Aceh mengalami penurunan sejak dilanda pandemi covid-19 beberapa waktu lalu.
“Seluruh Bandara di Aceh akan di upayakan pemulihan penerbangan termasuk wilayah Simeulue,” katanya.
Menurut Bona, saat ini konektivitas antar wilayah merupakan salahsatu tantangan terbesar dalam hal mengembangkan sektor kepariwisataan di Kabupaten Simeulue.
Namun demikian, sejalan dengan hal tersebut, kata dia, penambahan frekuensi penerbangan dari dan ke bandara-bandara di Aceh diperlukan untuk mendukung pertumbuhan kunjungan wisata.














