Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Aceh  

Manfaatkan Lahan Kosong, Kadistanpan Abdya Ajak Warga Terapkan Sistem Tumpang Sari di Pekarangan Rumah

Hendri menjelaskan, konsep tumpang sari merupakan teknik bercocok tanam dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan secara bersamaan. Sistem ini sudah lama dikenal petani di Aceh, namun penerapannya di pekarangan rumah masih belum banyak dilakukan

IMG 20251003 152300 scaled e1759480524300
Kadistanpa Abdya, Hendri Yadi saat dikebun belakang rumahnya. Foto. Hariandaerah.com/Teuku Nizar.

Aceh Barat Daya – Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Kadistanpan) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Hendri Yadi, memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya dengan menerapkan sistem tumpang sari.

Langkah ini, menurutnya, tidak hanya menjadi contoh nyata bagi masyarakat dalam mengelola pekarangan rumah, tetapi juga dapat meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus menambah pendapatan keluarga.

Hendri menjelaskan, konsep tumpang sari merupakan teknik bercocok tanam dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan secara bersamaan.

Sistem ini sudah lama dikenal petani di Aceh, namun penerapannya di pekarangan rumah masih belum banyak dilakukan.

“Selama ini banyak pekarangan rumah yang dibiarkan kosong, padahal lahan sekecil apa pun bisa dimanfaatkan untuk menanam sayur, cabai, jagung, atau tanaman hortikultura lainnya. Saya sendiri memulainya di belakang rumah sebagai contoh bahwa hal ini bisa dilakukan siapa saja,” ujar Hendri Yadi, Jumat (3/10/2025).

Lebih lanjut, Hendri menegaskan bahwa pemanfaatan lahan kosong di sekitar rumah memiliki manfaat strategis, terutama dalam mendukung program ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Menurutnya, dengan menanam berbagai jenis tanaman secara tumpang sari, keluarga bisa memenuhi sebagian kebutuhan pangan sehari-hari tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasar.

“Kalau kita bisa panen cabai, tomat, atau sayuran dari pekarangan sendiri, otomatis kebutuhan rumah tangga berkurang. Bahkan, kalau hasilnya lebih, bisa dijual untuk menambah pendapatan. Ini sangat bermanfaat bagi keluarga,” katanya.

Ia juga menekankan, sistem tumpang sari dapat mengurangi risiko gagal panen karena jenis tanaman yang ditanam beragam. Jika satu jenis tanaman tidak berhasil tumbuh optimal, tanaman lain tetap bisa dipanen.

BACA JUGA:  KoBaR-GB Desak Reformasi Pendidikan Abdya: Tinggalkan Sistem Lama, Majukan Generasi Baru

Sebagai Kadistanpan, Hendri Yadi menegaskan komitmennya untuk terus mendorong masyarakat Abdya agar memanfaatkan lahan pekarangan.

Pihaknya juga akan memberikan bimbingan teknis melalui penyuluh pertanian yang tersebar di seluruh kecamatan.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa bertani tidak harus menunggu punya lahan luas. Dengan kreativitas dan teknik yang tepat, pekarangan rumah bisa menjadi kebun produktif. Kami akan mendampingi warga yang ingin mencoba, agar hasilnya maksimal,” jelasnya.

Selain itu, Dinas Pertanian dan Pangan Abdya juga akan memperkuat pemanfaatan Gerakan Pemanfaatan Lahan Pekarangan (GPLP) yang sejalan dengan arahan pemerintah pusat.

Melalui program ini, masyarakat diharapkan bisa lebih mandiri dalam penyediaan pangan dan tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga di pasaran.

Tindakan Hendri Yadi memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh masyarakat.

Mereka menilai langkah tersebut bisa menjadi teladan bagi pejabat publik lainnya untuk turun langsung memberikan contoh kepada warga.

Seorang tokoh pemuda Blangpidie, Rahmat, menyebut bahwa kebiasaan memberikan contoh nyata jauh lebih efektif daripada hanya menyampaikan imbauan.

“Kalau pejabat langsung melakukan hal yang disampaikan, masyarakat tentu akan lebih mudah mengikuti. Apa yang dilakukan Pak Kadis ini patut diapresiasi, karena selain memberikan edukasi, juga menginspirasi banyak orang,” kata Rahmat.

Fenomena kenaikan harga bahan pokok yang sering terjadi di pasar, seperti cabai, bawang merah, dan sayuran, juga menjadi salah satu alasan pentingnya masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan.

BACA JUGA:  Dua Kapal Sandar di Krueng Raya, Aktivitas Logistik Aceh Meningkat

Dengan menanam sendiri, setidaknya beban pengeluaran rumah tangga dapat ditekan.

“Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan seperti sekarang, masyarakat harus cerdas mencari solusi. Salah satunya dengan menanam sendiri kebutuhan dapur. Kalau harga cabai naik, tidak perlu panik, karena kita bisa ambil dari kebun sendiri,” ujar Hendri.

Ia juga mengingatkan, kegiatan berkebun di pekarangan dapat memberikan manfaat tambahan berupa udara lebih segar, lingkungan lebih hijau, dan aktivitas positif bagi anggota keluarga.

“Kami ingin menjadikan kegiatan ini sebagai gerakan bersama. Dengan gotong royong, kita bisa memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah,” tutur Hendri.

Selain tumpang sari, masyarakat juga didorong untuk mengembangkan konsep urban farming seperti hidroponik dan hortikultura bagi mereka yang memiliki lahan terbatas.

Dinas siap memberikan pendampingan teknis agar masyarakat dapat menyesuaikan metode bercocok tanam dengan kondisi pekarangan masing-masing.

Kadistanpan Abdya berharap, ke depan semakin banyak warga yang tergerak untuk memanfaatkan lahan kosong dengan sistem tumpang sari.

Ia juga menegaskan bahwa pihaknya siap menjadi mitra masyarakat dalam setiap upaya pengembangan pertanian skala rumah tangga.

“Kalau setiap rumah bisa memanfaatkan lahannya, maka kita tidak hanya kuat di tingkat keluarga, tetapi juga memperkuat ketersediaan pangan daerah. Mari kita mulai dari hal sederhana, dari rumah sendiri,” pungkas Hendri.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *